Esok Hari

Wahai yang Kuasa, katakanlah padakuKemanakah aku harus melangkah esok hari? Hatiku yang selalu membeku tiap kali terlukaKini perlahan mulai menghangat Kenapa kamu tetap tersenyum melihatkuMeski kupalingkan wajah ini berulang kali darimu? Seandainya matahari mampu melelehkan semuaKan kuubah hujan air mata ini,Lalu memelukmu erat

Putaran balik kolong Tomang

[3] Kepura-puraanmu kini telah berakhir. Malam-malam tanpa kata untuk mimpi-mimpi sumbang tumpang-tindih saling sahut-menyaut di pojokan kertas. Aku pun berhenti berbicara mengenai kita, hanya ada kau atau aku sekarang. Yang kini berada di titik tumpu dimana aku tidak bisa lagi merasakan hatimu. Bosan? ya aku juga bosanLelah? ya aku juga lelah Udahan yuk, capekAku sudah... Continue Reading →

Beethoven sonata

You want to know how you can tell if you're meant to be with someone? It's simple. Just sit and have a conversation. Some people when you talk to them, it's like trying to listen classical music on a radio with no antenna. You can push that dial back and forth all you want, but... Continue Reading →

Persimpangan Cideng

[2] Saat ini kepura-puraanmu telah membuatmu lelah, telah membuat kita lelah. Lelah walaupun hanya berpura-pura menggapai sejengkal nafas untuk bertahan di percepatan antara pelukan dan dingin yang memudar. Kamu jingga yang mewarnai sore, namun sebenarnya kelabu yang menyelimuti kepura-puraanmu itu sendiri. Aku matahari yang menghangatkan pagi, ternyata hanyalah bintang kecil di antara berjuta bintang yang... Continue Reading →

Desember

Kekasih, Kesendirian telah membunuh amarahku dan menguburnya jauh di dalam lembah kesunyianAku yang memilih membakar habis desember untukmu dan aku juga yang kembali mengais sisa-sisa desember untukkuKau tak akan pernah lagi bisa mencintai desember dan mencintaiku dengan cara yang samaDesember, bukan lagi desember yang sama untuk kita rindukanAku yang masih mencoba memaknai desember Atau pun... Continue Reading →

Mencintaimu adalah Candu

Senyumanmu, anggrek yang merekah di penghujung musim panas Pelukanmu, sehangat keberanian yang menggubris musim penghujan Harum tubuhmu, sejengkal firdaus yang jatuh ke bumi Rona pipimu, mengembang seperti roti yang di panggang Rambutmu, mesranya belaian angin rindu Hidungmu, sekokoh bukit tempat kita menyapa mentari Dagumu, tegarnya karang yang menantang ombak Matamu teduh, seteduh cahaya rembulan Alismu... Continue Reading →

Senja yang memudar

Kau lihat sayang, jingga di langit kali ini bersembunyi di balik kelabu Kita yang saat ini berada pada penghujung oktober yang membara Oktober yang masih terbayang dengan manisnya Desember Desember yang kini berubah menjadi pekat menutupi jingga di langit Sio apa kabar kisah yang pernah tertulis indah itu? Masihkah dia menyimpan hati yang pernah kita... Continue Reading →

Tentang Kejujuran

Kau pernah bertanya sudah sejauh manakah dia masuk? kapan? dan bagaimana? Mari sini ku ceritakan kisah yang tak tertulis tentang kami, bukan tentang kamu Kau pernah berkata, "cara terbaik untuk masuk ke sepotong hati adalah ketika hati itu luka" Ya, dia melakukannya dengan begitu sempurna ketika kau sedang berpaling untuk mengejar angan yang kau kira... Continue Reading →

Pulang tapi tak pulang

Ibu Di ketinggian 11277m Dalam perjalanan pulang Anakmu meratap artinya pulang Ibu Anakmu pulang Walau dia sebenarnya tak pulang Bukan rumahmu lagi yang ia tuju Rumahnya kini telah berada di negeri antah berantah Ibu Anakmu pulang Tak banyak yang bisa dia bawa Hanya senyuman duka Kepura-puraannya Dan perih lain dimatanya Ibu Anakmu pulang Namun ia... Continue Reading →

Perihal Hati

ditulis di Gili Trawangan, tanggal 25 Juni 2018 dengan waktu lokal menunjukan tengah malam lewat sedikit dan diposting setelahnya sambil menunggu pesawat delay mengenai hati yang pernah kau bawa pergi setelah menorehkan namamu (kemudian) menjadi luka yang sampai saat ini masih menganga berharap ada sedikit rindu datang mampir ketika aku sedang sibuk bersama semesta mewarnai... Continue Reading →

3:19am UTC+07:00

Sayang, malam kini merekah sempurna Semesta menaburkan cahaya di Langit untuk menemanimu Meskipun kau memilih lupa dan jatuh hati Kepada cahaya lain yang ada di Bumi Apa kabar hati yang lalu? Hati yang sudah kau miliki Tak perlu kau kembalikan Simpanlah baik-baik Cerita-cerita Beserta teriakan Juga air mata Dan embusan napas Termasuk derai tawa Juga... Continue Reading →

Memandangi Monas

[1] Suatu hari nanti kepura-puraanmu akan membuatmu lelah. Kau akan bertekuk lutut di hadapannya dan ia akan mengambil semua yang pura-pura dari wajahmu, dari hidupmu, supaya kau kembali memperoleh hidupmu sekali lagi. Kata-kata telah mengobrak-abrik kesunyian hatiku memaksaku untuk diam, diam-diam mencintaimu dengan keras kepala. Aku tidak berani mencintaimu lagi dengan lantang, karena kau terlalu... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑