Desember

Kekasih, Kesendirian telah membunuh amarahku dan menguburnya jauh di dalam lembah kesunyianAku yang memilih membakar habis desember untukmu dan aku juga yang kembali mengais sisa-sisa desember untukkuKau tak akan pernah lagi bisa mencintai desember dan mencintaiku dengan cara yang samaDesember, bukan lagi desember yang sama untuk kita rindukanAku yang masih mencoba memaknai desember Atau pun... Continue Reading →

Mencintaimu adalah Candu

Senyumanmu, anggrek yang merekah di penghujung musim panas Pelukanmu, sehangat keberanian yang menggubris musim penghujan Harum tubuhmu, sejengkal firdaus yang jatuh ke bumi Rona pipimu, mengembang seperti roti yang di panggang Rambutmu, mesranya belaian angin rindu Hidungmu, sekokoh bukit tempat kita menyapa mentari Dagumu, tegarnya karang yang menantang ombak Matamu teduh, seteduh cahaya rembulan Alismu... Continue Reading →

Senja yang memudar

Kau lihat sayang, jingga di langit kali ini bersembunyi di balik kelabu Kita yang saat ini berada pada penghujung oktober yang membara Oktober yang masih terbayang dengan manisnya Desember Desember yang kini berubah menjadi pekat menutupi jingga di langit Sio apa kabar kisah yang pernah tertulis indah itu? Masihkah dia menyimpan hati yang pernah kita... Continue Reading →

Tentang Kejujuran

Kau pernah bertanya sudah sejauh manakah dia masuk? kapan? dan bagaimana? Mari sini ku ceritakan kisah yang tak tertulis tentang kami, bukan tentang kamu Kau pernah berkata, "cara terbaik untuk masuk ke sepotong hati adalah ketika hati itu luka" Ya, dia melakukannya dengan begitu sempurna ketika kau sedang berpaling untuk mengejar angan yang kau kira... Continue Reading →

Pulang tapi tak pulang

Ibu Di ketinggian 11277m Dalam perjalanan pulang Anakmu meratap artinya pulang Ibu Anakmu pulang Walau dia sebenarnya tak pulang Bukan rumahmu lagi yang ia tuju Rumahnya kini telah berada di negeri antah berantah Ibu Anakmu pulang Tak banyak yang bisa dia bawa Hanya senyuman duka Kepura-puraannya Dan perih lain dimatanya Ibu Anakmu pulang Namun ia... Continue Reading →

Perihal Hati

ditulis di Gili Trawangan, tanggal 25 Juni 2018 dengan waktu lokal menunjukan tengah malam lewat sedikit dan diposting setelahnya sambil menunggu pesawat delay mengenai hati yang pernah kau bawa pergi setelah menorehkan namamu (kemudian) menjadi luka yang sampai saat ini masih menganga berharap ada sedikit rindu datang mampir ketika aku sedang sibuk bersama semesta mewarnai... Continue Reading →

3:19am UTC+07:00

Sayang, malam kini merekah sempurna Semesta menaburkan cahaya di Langit untuk menemanimu Meskipun kau memilih lupa dan jatuh hati Kepada cahaya lain yang ada di Bumi Apa kabar hati yang lalu? Hati yang sudah kau miliki Tak perlu kau kembalikan Simpanlah baik-baik Cerita-cerita Beserta teriakan Juga air mata Dan embusan napas Termasuk derai tawa Juga... Continue Reading →

Memandangi Monas

Suatu hari nanti kepura-puraanmu akan membuatmu lelah. Kau akan bertekuk lutut di hadapannya dan ia akan mengambil semua yang pura-pura dari wajahmu, dari hidupmu, supaya kau kembali memperoleh hidupmu sekali lagi. Kata-kata telah mengobrak-abrik kesunyian hatiku memaksaku untuk diam, diam-diam mencintaimu dengan keras kepala. Aku tidak berani mencintaimu lagi dengan lantang, karena kau terlalu sibuk... Continue Reading →

Hilangkan!

Antara aku dan kamu Antara kamu dan aku Antara kita berdua Hilangkan antara Untuk cinta yang bersemi Untuk rindu yang menggebu Untuk kisah kita Hilangkan untuk Hilangkan!

Aku mencariMu

Aku mencariMu ketika Ra berjanji untuk tetap membuat matahari terbit setap pagi Tak kutemukan Engkau setiap kali matahari terbit. Aku mencariMu ketika Odin membunuh Ymir untuk mengakhiri musin dingin Tak juga kutemukan Engkau setiap kali salju terakhir mencair. Aku mencariMu ketika Zeus menjatuhkan Kronos untuk memenuhi takdirnya Tak pernah sekalipun kutemukan Engkau setiap kali petir... Continue Reading →

Di jalanMu

Ada rindu di antara jalan-jalanMu Ada senja di tepinya Langkah masih tertatih Angin menari berbalut sendu Ketika matahari tenggelam Di jalanMu rindu membentang Kota berpeluh Semesta Membisu kiriman puisi dari: Rizki Wahyu Utami Ohorella

Puisi adalah Aku

Kau tau kenapa aku berpuisi? Karena aku mungkin tidak pernah memiliki keberanian untuk langsung datang mengetuk pintumu Kata-kata yang telah kusiapkan selalu kalah oleh senyumanmu Dan lidah sudah terlanjur dibungkam oleh tatapanmu Oh jangan kau tanya apa kabar hati yang telah lupa untuk berdetak ketika kau memeluknya Puisi adalah Aku, Kata telah menyatu untuk dahaga... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑