Satu tahun telah berlalu

Detak jarum jam membisikkan sesuatu padaku malam ini, memaksa diriku ini untuk tidak hanyut di dalam indahnya mimpi. Di pojokan ruangan kulihat tas ransel dan beberapa barang yang sudah dikemas rapi dan mereka terhanyut dalam sepinya malam terakhir mereka ruangan ini. Angin yang bertiup meleburkan semua perasaan pada saat itu.

Dengan langkah kaki yang melekat erat dalam kesunyian, aku mulai menyusuri malam. Kulewati adikku yang masih belum terlepas dari belenggu bunga tidur yang memeluknya. Kulihat Papa dan Mama yang masih terjaga dari malam dan ditemani dengan kebisuan dalam kata yang diucapkan melalui tatapan mata.

Langkahku pun berakhir, dan aku mulai terhipnotis pada irama jangkrik yang menemani setiap malam. Tanpa kusadari mata ini kemudian tertuju kepada sebuah foto milik sang kekasih tercinta, hati ini pun tak bisa dibohongi lagi bahwa aku ingin dia menemaniku malam ini. Kupejamkan mataku perlahan-lahan dan kurasakan dia datang untukku. Sebuah pertanyaan pun ku ucapkan, Mungkinkah kita akan selalu bersama meski jarak dan waktu memisahkan kita? Dia pun hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman yang penuh dengan teka-teki. Tak terasa jarum pada jam telah berjalan begitu jauh dan membiarkan diriku ini hanyut dalam sebuah mimpi.

…..

Aku telah siap untuk menunda hari-hari ku yang penuh dengan kenangan, senyuman, dan air mata di Ambon Manise dan mengawali hari-hari ku di rantau orang yang penuh dengan perjuangan dan penderitaan. Mobil jemputan telah datang, semua barang telah dimasukkan, aku kemudian duduk di tempat paling depan.

Sebuah pelukan dari Mama tercinta, Papa tersayang, dan Adikku terkasih melepas kepergianku saat itu. Mobil pun melaju menyusuri sepanjang jalan yang penuh dengan kenangan ini. Setiap tempat pasti mempunyai kenangan tersendiri. Ketika melewati sebuah tempat dimana masa Putih Abu-abu ku lewati bersama dengan sahabat-sahabatku, dan kekasihku. Air mata pun mulai terkumpul didalam mata dan siap untuk dilepaskan mengiringi berlalunya semua ini.

Sampai pada suatu tempat dimana orang yang kucinta berjanji untuk ada di tempat itu agar dia bisa ada untukku malam ini, namun dia tidak datang. Setelah beberapa menit kutunggu, aku pun coba untuk menghubunginya, namun tidak ada kabar berita darinya. Terpaksa aku harus pergi tanpa melihat dirinya untuk sekali lagi. Hatiku mulai retak saat itu, namun aku coba untuk memahaminya.

Kaki ini kemudian melangkah memasuki sebuah ruangan dalam pesawat yang akan membawa diriku pergi dari sini. Ketika pesawat mulai meninggalkan Ambon Manise, kulihat pemandangan hijaunya gunung, pasir putih yang membentang membatasi pantai, semua itu mulai terhapus oleh putihnya awan. Air mata ini pung jatuh mengalir di pipi mengiringi kepergian semua itu. Kembali kurebahkan rasa, bersiap untuk melepas segalanya mengenai kenangan indah yang terjadi dan juga kenangan pahit yang berlalu.

…..

Pintu pun terbuka, dan kulangkahkan kaki ini untuk pertama kalinya di tanah orang yang terasa begitu asing bagiku. Kuhirup udara ini, dan hembusan angin datang membisikkan sesuatu untukku, “Selamat Datang di rantau orang”. Teriknya matahari pagi kemudian tersenyum menyambut kedatangan setiap orang pada hari itu.

Sambil menunggu, kulirik beberapa orang yang mulai berdatangan. Ada yang datang hanya untuk bersenang-senang, ada yang datang untuk sebuah perubahan, ada yang datang dengan ketakutan, dan masih banyak lagi yang bisa digambarkan hari itu.

Tiba-tiba sebuah suara membuat pergi semua lamunanku. Dan ternyata jemputan untuk pergi ke tempat selanjutnya telah tiba. Aku pun mulai menikmati perjalanan ini, pemandangan baru, kehidupan yang baru, dan semua yang akan menjadi baru untukku disini. Tawa canda dan senyuman menyambut kedatanganku saat itu ketika telah sampai di tempat tujuan. Entah itu karena alasan bahagia atau alasan lain, aku tidak mengetahuinya, dan juga tidak ingin tahu.

Hari itu pun berlalu dengan meninggalkan banyak kenangan. Bintang dan bulan bermunculan mengiringi datangnya malam, walaupun mereka tertutup oleh gemerlapnya malam kota metropolitan dan mereka mulai dilupakan, tapi mereka tetap memancarkan sinar keindahan mereka untuk menemani setiap kenangan yang terlupakan dan dilupakan.

…..

Hari-hariku yang penuh dengan perjuangan dan penderitaan pun dimulai. Aku pun mulai mempelajari hal-hal yang baru disini, dan mencoba untuk menemukan jati diriku yang sebenarnya. Banyak hal yang kulalui dan kurasakan disini sehingga menjadi sebuah kenangan tersendiri.

Rasa rindu kembali menusuk jiwa, namun aku tidak bisa menuduhnya karena pisau yang dia gunakan untuk menusuk jiwaku telah disembunyikan. Aku sadar, terkadang aku merindukan semua orang dan semua kenangan serta kehidupanku yang dulu. Namun aku juga tidak mau rasa rindu itu memotong kakiku sehingga menghambat setiap langkahku untuk menuju kesuksesan.

Hati ini juga pernah mati rasa ketika rasa rindu kepada sang kekasih tercinta tak terbalaskan. Sayap-sayap yang pernah dipatahkan agar tidak bisa terbang dan pindah ke lain hati, kini mulai tumbuh kembali seiring dengan mekarnya luka di hati. Ternyata aku sadar dia memang tercipta bukan dari tulang rusuk ku, sehingga dia tercipta bukanlah untuk menjadi milikku.

Banyak sapa selalu datang dan menggoda, namun hadirkan duka. Banyak yang singgah, tapi hanya datang dan pergi begitu saja. Banyak janji yang terucap atau kata yang digambarkan oleh bibir, namun semua itu hanyalah angin yang berlalu dan mudah dilupakan. Proses pembunuhan karakter dan perasaan pun menjadi satu-satunya pilihan agar tidak menimbulkan luka yang sama lagi.

Banyak hal telah kulewati, dan banyak juga kegagalan yang datang untuk menghiasi perjuanganku ini. Namun aku selalu ingat akan kata mama dan papa, “Jadikanlah kegagalan sebagai cambuk untuk memacu kita menuju keberhasilan”. Walaupun untuk mencapai keberhasilan itu memerlukan banyak pengorbanan dan penderitaan, namun hal itu tetap harus kujalani. Karena bagiku, selama doa mama dan papa masih ada bersamaku aku tidak akan takut dengan yang namanya kegagalan. Pencarian jati diriku pun aku mulai, walaupun aku tahu untuk menemukannya bayangan kegagalan selalu menghantui, namun aku tidak akan mundur dari semua ini.

…..

Dalam dinginnya malam ini, kuresapi setiap waktu yang berlalu. Dan tanpa kusadari, setahun sudah aku di rantau orang. Mama, Papa, Adik, aku tahu rasa rindu kepada kalian ini takkan bisa terobati dengan apapun itu. Aku pun hanya bisa berdoa kepada Tuhan ketika aku rindu kalian semua, Satukanlah kami didalam mimpi Agar kami bisa melepaskan semua rasa rindu yang selama ini terpendam di dalam hati.

Perjuanganku masih panjang disini, masih banyak rahasia dibalik rahasia yang yang belum terungkapkan oleh waktu. Aku pun masih belum menemukan jati diriku yang sebenarnya. Aku pastikan satu tahun ini bukanlah tahun terakhir perjuanganku, tapi merupakan tahun pertama yang menjadi awal dari tahun-tahun berikutnya.

Masih banyak hal yang belum ku ketahui, banyak hal yang belum aku capai, banyak hal yang belum aku lakukan, dan masih banyak yang perlu aku jalani. Perjuangan, penderitaan, pengorbanan, dan kegagalan, mungkin itulah yang pasti akan mengiringi jalanku nanti. Namun aku tetap yakin setelah hujan pasti ada matahari yang menghiasi langit, begitu pun dengan semua ini, pasti suatu saat ada titik terang dimana semua yang kita lakukan pasti akan mendapatkan hasil yang terbaik. Karena ada seuntai kata yang berbunyi “Selama kita berada di jalan Tuhan, maka Tuhan memberkati jalan kita”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: