Sejarah dan Awal mula budaya Pela Gandong

Berbicara mengenai awal mula terjadinya pela gandong, maka hal ini akan mengacu kepada salah satu kapata yang berasal dan dinyanyikan di pulau Seram, kapata tersebut sebagai berikut:

Kuru Siwa Rima e

Tutu ya hei lete hei lete oo.

Hei lete Nunusaku o, Nunusaku o.

Nunusaku karu pela, karu pela o.

Nunusaku sama pela, sama pela o.

Sama pela Wae le telu, Wae le telu o.

Nunu e, nunu e, Nunusaku, nunu e.

Nunusaku Nusa Ina, Nunu Siwa Rima o.

Nunusaku Nusa Ina, Upu Ama lepa Nia.

Tala, Eti, Sapalewa, Kuru Siwa – Rima e.

Upu Ama Karu Pela, Karu Pela o.

 

Tempat Asal Patasiwa Patalima

Pandanglah ke sana, mereka datang, turun dari darat.

Datang dari kawasan Nunusaku, Nunusaku.

Nunusaku mewariskan kita ikatan pela, ikatan persaudaraan.

Nunusaku membawa serta pula ikatan kekeluargaan.

Membawa lembaga pela dari kawasan tiga aliran sungai.

Nunusaku, Nunusaku, dari sanalah asalnya.

Nunusaku, Nusa Ina janji wasiat para leluhur.

Dari kawasan tiga aliran sungai Tala, Eti dan Sapawela.

Berasal dari masyarakat Patasiwa dan Patalima.

Para leluhur mewariskan pela sebagai ikatan persaudaraan.

Milik bersama, harus terpelihara.

Terjemahan bebas oleh : Muhammad Lestaluhu, S.H

Dengan demikian, maka asal mula dari Pela Gandong baik bentuk, sifat, isi dan tatalaku, ialah dari adanya kehidupan sosial yang berkembang di masyarakat Nunusaku di pulau Seram. Perkembangan kehidupan sosial masyarakat tersebut banyak ditemui dalam berbagai bidang, diantaranya:

  1. Pertambahan jumlah penduduk yang semakin banyak.
  2. Dasar ucapandan cara rumpun Patalima dan rumpun Patasiwa berbahasa.
  3. Adanya perbedaan ketrampilan seperti cara menenun pakaian di antara para anggota kedua rumpun.
  4. Perbedaan penampilan yang sangat mendasardi antara para anggota kedua rumpun.

Karena faktor – faktor perkembangan tersebut, maka kehidupan sosial masyarakat Nunusaku akhirnya mengalami perpecahan dan terjadilah eksodus, selain ke arah timur maupun barat pulau Nusa Ina itu sendiri, juga ke arah pulau Ambon dan pulau – pulau Lease.

Arus migrasi kelompok – kelompok yang eksodus berjalan lamban, bahkan amat lamban. Kelambanan itu terjadi karena sering ada peperangan antar kelompok untuk merebut daerah – daerah kekuasaan. Hampir selalu terjadi yang kuat memakan dan menindas yang lemah.

Peperangan bukan saja terjadi antar rumpun Patasiwa dan Patalima, akan tetapi juga dalam tiap – tiap rumpun sendiri, seperti antar Patasiwa sendiri atau antar Patalima sendiri. Perepcahan dalam rumpun sendiri pun tidak dapat dielakkan.

Dengan sering terjadinya peperangan antara rumpun maupun rumpun itu sendiri, menimbulkan kesadaran di antara kedua rumput. Akhirnya peperangan antar rumpun maupun rumpun itu sendiri perlahan bisa diatasi dengan ikrar perjanjian. Ikrar perjanjian mana selalu disertai nyanyian atau kapata “Kuru Siwa Rima e”, yang hidup di pulau Seram. Karena ikrar perjanjian ini begitu kuat sehingga menjadi awal mulanya tercipta ikatan Pela Gandong.

Eksodusnya bagian – bagian dari masyarakat Nunusaku yang kemudian Bermigrasi ke pulau Ambon dan pulau -pulau Lease membawa serta pengetahuan dan pengalaman tentang Pela Gandong baik aspek, faset, bentuknya, isinya, dan juga tata lakunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: