Jenis dan hubungan Pela

Jenis pela yang terjadi di Maluku sangat beragam. Langsung saja, berikut ini ada beberapa jenis pela beserta latar belakang dan hukum yang ada di dalamnya.

1. Pela Batu Karang

Jenis pela batu karang menggambarkan kuatnya sebuah ikatan pela yang terjadi antara dua negeri atau beberapa negeri. Ikatan pela ini juga terjadi akibat saling tolong menolong dalam perang.

Hukum pela antara kedua negeri ini adalah larangan perkawinan antara kedua negeri. Ada juga beberapa hukum lainnya seperti yang terjadi antara negeri Allang dengan Latuhalat yaitu laki-laki dari dari matarumah Patty dan Siwalette tidak boleh berdiri di depan kamar matarumah Lekatompessy, ini merupakan janji yang harus di patuhi sebagai pamali. Bagi anak negeri Alang dan Latuhalat, sanksi atas pelanggaran diatas bersifat religius magis.

2. Pela Tampa Sirih

Ikatan pela ini terbentuk akibat saling tolong menolong dalam perang antara kedua negeri.

Hukum Pela Tampa Sirih melahirkan hukum saling menghormati dan tolong menolong antara kedua negeri. Walaupun ikatan pela ini tidak ada larangan saling mengawini antara kedua anak negeri, namun warga masyarakat kedua negeri saling menjaga hubungan baik dengan tidak saling mengawini seakan – akan kawin antara pela itu Pamali.

3. Pela Minum Darah (Pela Keras)

Pela ini disebut pela keras karena ikatan pela minum darah sesuai namanya terjadi karena antara kedua belah pihak sama sama meminum darah sebagai tanda dari ikatan pela tersebut.

Hukum Pela yang ada pada ikatan pela ini adalah kedua negeri tidak memperbolehkan saling kawin mengawini, saling tolong menolong, dan juga saling menghargai antara kedua negeri.

Selain itu, menurut sejarah, jenis pela ini juga mengakhiri perang dan permusuhan yang terjadi antara negeri Ema dan Naku.

4. Pela Gandong

Ikatan pela ini terbentuk karena adanya ikatan darah seperti hubungan kakak beradik yang terjadi antara kedua negeri atau beberapa negeri, namun bisa juga terjadi walaupun tidak memilki ikatan darah namun sudah seperti saudara sendiri. Selain itu, ikatan pela ini juga terbentuk akibat terjadi saling tolong menolong antara kedua negeri dalam peperangan. Ikatan pela ini juga merupakan ikatan pela keras.Hukum yang terdapat pada ikatan pela ini seperti kerjasama melalui berbagai kegiatan negeri, pemilikan bersama terhadap hasil kebun, serta larangan perkawinan antara anak negeri. Selanjutnya hidup saling tolong menolong, bantu membantu, dan saling menghormti menjadi keharusan bagi pemerintah maupun warga masyarakat kedua negeri.

Selain itu juga terdapat sanksi adat yang tidak jelas dalam bentuk bagaimana seperti yang terjadi antara negeri Batu Merah dan Passo, jika ada anak dari kedua negeri kawin maka selalu ditandai dengan tidak mempunyai keturunan atau salah satu suami atau istri meninggal dunia.

Ada juga hukum saling menghormati dengan ciri khas khusus seperti yang terjadi antara negeri Tial dengan Paperu seperti Sasi di negeri Tial tidak berlaku bagi warga negeri Paperu yang datang ke negeri Tial pada saat ada Sasi. Begitupun ketika saat negeri Tial sedang berpuasa dan mereka kedatangan tamu dari negeri Paperu, mereka tetap menjamu orang Paperu dengan memasak makanan di siang hari.

Kemudian jika ikatan pela ini bersifat multi negeri seperti yang terjadi antara tujuh negeri yaitu Tulehu (di Ambon), Tial (di Ambon), Asilulu (di Ambon), Hulaliu (di Haruku), Paperu (di Saparua), dan Sila (di Nusalaut). Mereka bersepakat menghadiri setiap upacara pelantikan raja di salah satu negeri.

5. Pela Minuwe (Ipar)

Ikatan pela ini hampir sama dengan ikatan pela gandong, dan rata rata memiliki hukum yang sama seperti saling tolong menolong dan larangan saling kawin antara anak kedua negeri.

6. Pela Perang

Ikatan pela ini dilatar belakangi oleh peperangan yang terjadi akibat kedua negeri. namun diambil keputusan damai dengan membentuk ikatan persaudaraan antara kedua negeri.

Demi menjaga agar hubungan antara kedua negeri selalu harmonis dari generasi ke generasi maka dibuat larangan saling mengawini antara anak kedua negeri, dan saling menghargai.

7. Pela Tumpah Darah

Ikatan pela ini dilatar belakangi oleh peperangan antara kedua negeri. Agar terjalin perdamaian antara kedua negeri, maka perjanjian pela dengan meminum darah atau pemotongan hewan menjadi dua bagian dan kedua bagian dari hewan itu dibawa ke masing masing negeri.

Hukum utama dalam ikatan pela ini adalah hidup damai, tidak saling bermusuhan saling menghargai, dan larangan perkawinan antara sesama anggota masyarakat kedua negeri.

Namun tidak semua larangan perkawinan ini berlaku di semua negeri yang memiliki ikatan pela ini seperti yang terjadi antara negeri Soya dan Urimessing, hanya empat marga dari masing – masing negeri yang terkena larangan perkawinan, empat marga tersebut adalah Rehatta, Tamtelahitu, Pesulima, Huwaa dari negeri Soya dan Samaleleway, Manusiwa, Salakay, Tisera dari negeri Urimessing.

8. Pela Tuni

Pela ini juga termasuk ikatan pela keras. Pela ini biasanya di tandai dengan minum darah atau minum tuak secara bersama sama.

Hukum dari pela ini seperti saling menghargai, tolong menolong, dan larangan perkawinan antara kedua anak negeri.

Sanksi terhadap pelanggaran pela tuni berupa kedua pelaku disalele dengan daun kelapa, kemudian diarak keliling negeri. Selain itu ada juga beberapa ciri khas pada hukum pela ini seperti yang terjadi antara negeri Tenga – Tenga dan Hatusua, dimana kalau kesalahan pada anggota masyarakat negeri Hatusua, maka tua – tua Adat negeri Tenga – Tenga yang memberikan hukuman, begitu pula sebaliknya.

9. Pela Arumbai

Latar belakang dari pela ini berawal ketika pemerintah negeri Galala memesan arumbai “belang” dari negeri Hitu Lama untuk mengikuti perlombaan “Arumbai Manggurebe”.

Tidak ada janji yang berbntuk hukum dalam ikatan pela ini, tetapi dalam pelaksanaannya, saling membantu dalam pembangunan misalnya pembangunan tempat ibadah selalu dikerjakan bersama-sama antara kedua negeri.

10. Pela Tungku

Pela ini juga sering disebut pela tiga tungku karena terjadi ikatan antara tiga negeri. Pela ini ditandai dengan makan pinang sebagai penganti minum darah.

Hukum yang ada pada pela tungku seperti yang ada dalam istilah Peia Laha Luia (Saling kasih mengasihi dan menghormati), Ale Na Au Na (Ale Punya Beta Punya) artinya Semua harta kekayaan maupun sumberdaya alam adalah milik bersama hal ini terlihat nyata dalam acara pela selalu “Sagu satu Lempeng digabi tida, Kelapa satu sisi (sepotong) dibagi tiga”. Ikatan pela ini juga disertai dengan larangan kawin antara sesama warga ketiga negeri.

Demikian beberapa jenis pela yang dapat saya jelaskan. Sebanarnya masih banyak jenis pela yang ada di Maluku, namun belum belum diketahui secara pasti dan jelas seperti apa ikatan pela tersebut. Semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat.

Sumber: Lembaga Kebudayaan Provinsi Maluku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: