Perempuan Sore

November sore itu
Langit kembali menutup dirinya
Nyanyian hujan dan tarian awan
Menjadi santapan jiwa di kala itu

Rumus algoritma yang terlukis kaku
Cahaya lampu seolah menajamkan gambarnya
Suara goresan tinta yang mengalir di kertas
Menghidupkan suasana sunyi di dalam ruangan

Tok, tok,
Suara ketukan itu
Mencairkan waktu yang membeku
Meminta perhatian mata yang terlelap
Untuk menyambut Malaikat dalam penyamaran

Bersama hangatnya warna mentari
Dengan rambut yang seindah gelapnya malam
Dihiasi senyuman manis Cleopatra
Dan tatapan Medusa yang memikat
Oh, kau leburkan aku

Saat semua kebisuan mulai berbicara
Ketika setiap kesunyian tertawa bersama
Menyisihkanmu, dan menjadikanmu Perempuan Sore
Yang bercerita dengan hujan di waktu itu

Wahai perempuan sore
Pertanyaan apa yang kamu tanyakan kepada hujan
Jawaban apa yang kamu tunggu dari awan
Jangan kamu biarkan petir membungkam mulutmu
Percayalah pada angin yang berbisik padamu

Ada aku yang membiaskan pelangi dari hujan untukmu
Kan ku hiasi langit dengan terangnya bintang
Dan menggantikan awan dengan putihnya rembulan
Akan ku bawa kamu melewati senja kelabu
Kepada gemerlap indahnya malam itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: