Rasa yang tak bertuan

Nona, kau kah itu yang berdiri di keramaian?
Aku melihatmu dari atas sini
Sudah kah kau terima kata yang
kutitip pada bulu burung yang patah itu?

Oh, itukah kau tuan yang menatap jauh
ke dalam sudut keramaian ini?
Mencari sesuatu yang kau sendiri pun
tak tau apa yang kau cari di sini
Sepotong hati yang baru kah atau
sebaris kisah yang bercerita

Puisi telah memungut diriku
dari serpihan kata-kata
Kemudian dipecah-pecah
menjadi ribuan kesunyian
Dititipkan kepada hati
yang menyimpan rasa tak bertuan

Jadi kau kah yang menitipkan puisi ini tuan?
Maaf tapi hati ini tak bisa kau capai
Karena puisi yang kau lahirkan
telah durhaka kepada penyairnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: