Putaran balik kolong Tomang

[3]

Kepura-puraanmu kini telah berakhir. Malam-malam tanpa kata untuk mimpi-mimpi sumbang tumpang-tindih saling sahut-menyaut di pojokan kertas. Aku pun berhenti berbicara mengenai kita, hanya ada kau atau aku sekarang. Yang kini berada di titik tumpu dimana aku tidak bisa lagi merasakan hatimu.

Bosan? ya aku juga bosan
Lelah? ya aku juga lelah

Udahan yuk, capek
Aku sudah tidak lagi merasakan hangatmu
Pelukmu berbeda
Aku sudah melupakan senyumanmu
Wajahmu memudar
Dirimu menjauh daku menghilang

Aku bisa melihat duka dimatamu tuan
Tatapan orang-orang yang telah kehilangan
Orang-orang yang ditinggal pergi
Tanpa pernah diberi kesempatan untuk bertanya
Aku tau tatapan itu tuan
Aku pernah melihat dengan tatapan yang sama

Berhentilah!
Bukankah aku telah mengajarkanmu bagaimana caranya untuk berhenti. Berhentilah untuk menjadi kita, berhentilah untuk berpura-pura. Sudah terlalu lama kita berpura-pura, bahkan berharap kepura-puraan ini adalah nyata. Namun apakah siap untuk tak berpura-pura? Ketidakpedulianmu dan ketidakpekaanku itu meragu. Tidak ada lagi cinta yang tersisa keluar dari matamu.

Kau tau apa yg salah dengan kita saat ini?
Bersama kita telah menulusuri jejak-jejak malam yang tak bertabur bintang. Mencari serpihan percaya yang sirna untuk kembali ke awal. Memeluk erat sisa-sisa dari seseorang yang telah dihancurkan mimpi, berharap dia akan kembali utuh. Namun kita terlalu larut membiarkan senyap masuk begitu jauh mengisi ruang kosong, setelah itu membiarkan sunyi masuk membunuh kita perlahan-lahan.

Aku mungkin yang terlalu gegabah datang dengan lantang mengobrak-abrik isi hatimu kemudian dengan lancang menanamkan asa di pikiranmu. Kita masih terlalu naif saat itu untuk menetap, tinggal, dan jangan pergi. Masih banyak torehan luka dan perih lain menanti yang harus kita ukir. Kau harus pergi, pastikan kali ini semua sirna. Agar kau tak pernah punya tempat lagi untuk kembali. Siapa aku yg bisa menahanmu? Ya, inilah hatiku yang dipatah-patahkan untukmu.

Kita memang butuh pemantik untuk kembali menyalakan rindu dan membakar cinta, membuat dia kembali berapi-api. Namun jika Tuhan dan manusia dan perihal lain tetap berkata tidak, maka aku akan pergi dengan kobaran api terakhir! Biarkan mereka padam perlahan-lahan kalah dari jarak dan ilusi yang saat ini menjadi teman kita.

Kekasih, matahari kini mulai meninggi menarik garis pembatas memisahkan kita. Gelas-gelas kaca pun tergeletak kaku dan botol anggur kini telah kosong, kenyang dengan semua pertanyaan yang selama ini kita tanyakan namun kita biarkan tak terjawab. Tapi kenapa kita belum juga beranjak pergi?

[1] [2] [3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: