Perihal Hati

ditulis di Gili Trawangan, tanggal 25 Juni 2018 dengan waktu lokal menunjukan tengah malam lewat sedikit dan diposting setelahnya sambil menunggu pesawat delay mengenai hati yang pernah kau bawa pergi setelah menorehkan namamu (kemudian) menjadi luka yang sampai saat ini masih menganga berharap ada sedikit rindu datang mampir ketika aku sedang sibuk bersama semesta mewarnai... Continue Reading →

3:19am UTC+07:00

Sayang, malam kini merekah sempurna Semesta menaburkan cahaya di Langit untuk menemanimu Meskipun kau memilih lupa dan jatuh hati Kepada cahaya lain yang ada di Bumi Apa kabar hati yang lalu? Hati yang sudah kau miliki Tak perlu kau kembalikan Simpanlah baik-baik Cerita-cerita Beserta teriakan Juga air mata Dan embusan napas Termasuk derai tawa Juga... Continue Reading →

Memandangi Monas

[1] Suatu hari nanti kepura-puraanmu akan membuatmu lelah. Kau akan bertekuk lutut di hadapannya dan ia akan mengambil semua yang pura-pura dari wajahmu, dari hidupmu, supaya kau kembali memperoleh hidupmu sekali lagi. Kata-kata telah mengobrak-abrik kesunyian hatiku memaksaku untuk diam, diam-diam mencintaimu dengan keras kepala. Aku tidak berani mencintaimu lagi dengan lantang, karena kau terlalu... Continue Reading →

Hilangkan!

Antara aku dan kamu Antara kamu dan aku Antara kita berdua Hilangkan antara Untuk cinta yang bersemi Untuk rindu yang menggebu Untuk kisah kita Hilangkan untuk Hilangkan!

Aku mencariMu

Aku mencariMu ketika Ra berjanji untuk tetap membuat matahari terbit setap pagi Tak kutemukan Engkau setiap kali matahari terbit. Aku mencariMu ketika Odin membunuh Ymir untuk mengakhiri musin dingin Tak juga kutemukan Engkau setiap kali salju terakhir mencair. Aku mencariMu ketika Zeus menjatuhkan Kronos untuk memenuhi takdirnya Tak pernah sekalipun kutemukan Engkau setiap kali petir... Continue Reading →

Di jalanMu

Ada rindu di antara jalan-jalanMu Ada senja di tepinya Langkah masih tertatih Angin menari berbalut sendu Ketika matahari tenggelam Di jalanMu rindu membentang Kota berpeluh Semesta Membisu kiriman puisi dari: Rizki Wahyu Utami Ohorella

Puisi adalah Aku

Kau tau kenapa aku berpuisi? Karena aku mungkin tidak pernah memiliki keberanian untuk langsung datang mengetuk pintumu Kata-kata yang telah kusiapkan selalu kalah oleh senyumanmu Dan lidah sudah terlanjur dibungkam oleh tatapanmu Oh jangan kau tanya apa kabar hati yang telah lupa untuk berdetak ketika kau memeluknya Puisi adalah Aku, Kata telah menyatu untuk dahaga... Continue Reading →

Rasa yang tak bertuan

Nona, kau kah itu yang berdiri di keramaian? Aku melihatmu dari atas sini Sudah kah kau terima kata yang kutitip pada bulu burung yang patah itu? Oh, itukah kau tuan yang menatap jauh ke dalam sudut keramaian ini? Mencari sesuatu yang kau sendiri pun tak tau apa yang kau cari di sini Sepotong hati yang... Continue Reading →

Bintang Jatuh dan Kunang-kunang

Apakah kita hanya sebatas bintang jatuh Yang terbakar habis dengan cerita indah Di gemerlap langit malam yang singkat Ataukah kita hanyalah kunang-kunang Berupa kedekatan cahaya yang berpendar redup Menyala menghiasi malam untuk terakhir kalinya Aku tahu apa yang bisa kita miliki dan apa yang tidak dapat kita miliki Tapi adakah sedikit sisa keinginan yang mampu... Continue Reading →

Selamat Sore Kekasih

Selamat sore kekasih Apa kabarmu di pesisir sana? Perasaanmu sebiru laut yang menemanimu kah? Selamat sore kekasih Apakah kau disana sedang menikmati senja bersama secangkir rindu? Selamat sore kekasih Semesta disini sedang mewarnai langit dengan senja, warna favorit mu. Selamat sore kekasih Sudakah kau terima kata yang kutitipkan kepada senja yang telah lebih dulu beranjak... Continue Reading →

Ese día me dijiste adiós

Awal Oktober dan hujan yang datang terlambatAtau mungkin hujan telah lupa jalan untuk pulangSeperti seribu puisi yang kusiapkan untukmuKehilangan alasan untuk kembali pulang menjadi kata Lelaki itu pun kembali menyebrangi MargondaBertahun-tahun lalu kenangan pernah melintasi jalan ituTempat di mana kata aku menemukan makna menjadi aku Dilihatnya sepatu lama yang sedang dia pakaiTerasa nyaman walaupun mulai... Continue Reading →

Kemarau

Kemarau hati ini adalah derita Aku menjelma debu penuh dusta Sedangkan engkau berwujudkan oase Ditengah garingnya pencakar langit Menolak fatamorgana bertopeng kasih Nyanyianmu sejengkal firdaus yang jatuh ke bumi Tawamu pencipta gelombang serotonin Yang kudengar sebelum malam berselimutkan bayang Senja ini kupasang lagi sayap-sayap patahku Relakanlah ku terbang demi sejengkal firdaus itu

Powered by WordPress.com.

Up ↑