Bintang Jatuh dan Kunang-kunang

Apakah kita hanya sebatas bintang jatuh Yang terbakar habis dengan cerita indah Di gemerlap langit malam yang singkat Ataukah kita hanyalah kunang-kunang Berupa kedekatan cahaya yang berpendar redup Menyala menghiasi malam untuk terakhir kalinya Aku tahu apa yang bisa kita miliki dan apa yang tidak dapat kita miliki Tapi adakah sedikit sisa keinginan yang mampu... Continue Reading →

Selamat Sore Kekasih

Selamat sore kekasih Apa kabarmu di pesisir sana? Perasaanmu sebiru laut yang menemanimu kah? Selamat sore kekasih Apakah kau disana sedang menikmati senja bersama secangkir rindu? Selamat sore kekasih Semesta disini sedang mewarnai langit dengan senja, warna favorit mu. Selamat sore kekasih Sudakah kau terima kata yang kutitipkan kepada senja yang telah lebih dulu beranjak... Continue Reading →

Ese día me dijiste adiós

Awal oktober dan hujan yang datang terlambat Atau mungkin hujan telah lupa jalan untuk pulang Seperti seribu puisi yang kusiapkan untukmu Kehilangan alasan untuk kembali pulang menjadi kata Lelaki itu pun akhirnya menyebrangi Margonda Bertahun-tahun lalu kenangan melintasi jalan itu Tempat di mana kata aku menemukan makna menjadi aku Dilihatnya sepatu lama yang sedang dia... Continue Reading →

Kemarau

Kemarau hati ini adalah derita Aku menjelma debu penuh dusta Sedangkan engkau berwujudkan oase Ditengah garingnya pencakar langit Menolak fatamorgana bertopeng kasih Nyanyianmu sejengkal firdaus yang jatuh ke bumi Tawamu pencipta gelombang serotonin Yang kudengar sebelum malam berselimutkan bayang Senja ini kupasang lagi sayap-sayap patahku Relakanlah ku terbang demi sejengkal firdaus itu

Jika

Jika aku adalah hujan yang mengikat bersama-sama. Engkau tau persis apa itu bumi dan langit yang ada dalam kekekalan. Ya, sesuatu yang di dalam dirimu tidak akan berbaur. Dan, di dalam dirimu Ia tak terukur hanya mampu dirasa. Hangat? Aku bisa membakar bumi melelehkan langit untukmu Namun, akan kah engkau sanggup mengikat dua hati menjadi... Continue Reading →

Beri aku sebuah pintu

Beri aku sebuah pintu Agar aku bisa pulang ke negeri awan tempatku dulu terusir Beri aku sebuah pintu Agar aku bisa kembali menemui embun pagi yang memilih jatuh ke tanah Beri aku sebuah pintu Agar aku bisa melihat lagi tarian ombak dan batu karang serta tertawa bersama senja Beri aku sebuah pintu Agar aku bisa... Continue Reading →

Jakarta dikala Senja

Ukiran nyata kemacetan yang memukau Cipratan warna polusi pun memperindahnya Derung knalpot dan lantangnya suara Beradu merdu di panggung jalanan Langit kelabu mengingatkan lelaki itu Tentang pasir putih tempat dia berlari dulu Dan desiran ombak pesisir tempat dia menyimpan tawa Senja ingatkah engkau akan janji itu?

Embun Pagi

Hujan kini aku tak bisa lagi bersamamu Kabut telah jatuh cinta kepada embun pagi Angin maafkan aku yang tidak memberimu kesempatan Kata kabut yang telah jatuh cinta kepada embun pagi Embun pagi, rembulan menggodaku agar ikut dengannya Cerita kabut yang telah jatuh cinta kepada embun pagi Embun pagi, maukah kau ikut denganku? Meninggalkan daun yang... Continue Reading →

Kado yang tak sampai

23:18 Ku bongkar setiap sudut untuk mencari kertas Tinta sudah siap untuk berpisah namun kata lupa jalan pulang Aku nikmati setiap tarikan ini walaupun kotak kopi mulai sekarat Dan malam kembali berkhianat seperti matahari yang meninggalkanku Kado ulang tahun di pojokan itu memanggil Tak sudi aku menoleh kembali Namun mata kembali parlente Kabut dibawa pergi... Continue Reading →

Daun yang jatuh

Daun yang jatuh itu telah jatuh cinta kepada tanah yang basah sehingga dia rela meninggalkan ranting pohon kering itu yang menahannya dengan aksara kehidupan Namun tanah yang basah itu tetap tak bergeming karena telah terlebih dahulu menaruh hatinya kepada hujan gerimis itu yang dengan teganya mengusir semua debu tak bersalah

Empat Sajak Perpisahan

untuk Bonco Pau Ohorella (Alm) (1) Sore itu, matahari seperti kembali menyelubungi dirinya dengan awan kelabu (telfon berbunyi, "ada yang mau bicara denganmu") Berita apa yang kau bawa sore ini? Jika itu merupakan suka, kenalkanlah ia dengan mekarnya senyuman Jika itu adalah duka, bicaralah dengan tegarnya air mata Bermil-mil jauhya, bumi kembali menepati janjinya dengan... Continue Reading →

Sepotong Udara

Dari oksigen yang kau hirup cuma cuma namun membuatmu tetap hidup Lalu kau buang begitu saja dan kau rubah dia menjadi racun Tanyakanlah pada daun yg jatuh itu kenapa dia lebih memilih angin yang bertiup kemudian berlalu dibandingkan ranting pohon yang selalu menahannya Namun kau tak pernah bisa menyalahkan angin

Powered by WordPress.com.

Up ↑